Oleh Marlin Bato
Jakarta, 17/04/26
Sejarah telah mencatat berbagai peristiwa politik baik revolusi berdarah maupun gerakan senyap untuk menumbangkan rezim yang berkuasa. Plautus pernah mengemukakan frasa yang berbunyi "Homo Homini Lupus", yang kemudian dipopulerkan oleh Thomas Hobbes berarti manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Ungkapan ini menggambarkan sifat dasar manusia yang cenderung egois, agresif, dan dapat bersikap seperti predator yang kejam terhadap sesamanya demi kepentingan pribadi. Hobbes mengungkapkan sifat egois manusia. Dia menggambarkan situasi di mana manusia saling menindas, menipu, atau menjatuhkan, seperti serigala yang memangsa sesamanya.
Demikian pula sifat manusia dalam ruang diskursus politik. Ketika masuk arena ini, agaknya ungkapan homo homini Lupus juga dapat melengkapi pemikiran-pemikiran Niccolo Machiavelli yang berkembang pada masa renaisans. Dia adalah poltisi ulung yang sangat disegani dan menjadi rujukan melalui kedua bukunya yang terkenal berjudul; Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio "Diskursus tentang Livio" dan Il Principe "Sang Penguasa". Semula buku ini ditulis untuk memperbaiki keadaan pada masa itu, tetapi kemudian menjelma menjadi momok yang mengerikan bagi penguasa saat itu. Dalam buku ini diuraikan berbagai cara untuk mempertahankan kekuasaan. Machiavelli, kemudian diasosiasikan dengan perilaku buruk para penguasa, elit politik maupun tokoh-tokoh terkemuka untuk menghalalkan cara agar dapat mencapai tujuannya. Orang-orang yang melakukan tindakan seperti ini disebut machiavellianism.
Di Indonesia, para politisi hingga elit kekuasaan sudah banyak yang memahami pemikiran-pemikiran machiavellianism. Karena itu, orang bisa berlomba-lomba menghalalkan segala cara untuk mencapai kedudukan tertinggi. Pengkhianatan demi pengkhianatan kerap terjadi, dan itu selalu datang dari lingkaran paling dalam. Termasuk dengan peristiwa-peristiwa pergantian rejim di republik ini.
Sepanjang sejarah berdirinya kerajan-kerajan hingga negara kesatuan republik Indonesia, peristiwa pengkhianatan berujung kudeta sudah sering kali terjadi menghiasai berbagai pelajaran sejarah. Namun peristiwa semacam ini selalu berulang melalui ide-ide pengambilalihan kekuasan baik secara halus maupun secara radikal. Atau bahasa yang paling gamblang adalah kudeta yang diawali perbuatan makar, atau subordinasi dari dalam.
Mencermati situasi politik tanah air dan banjir kritik dari kaum oposan terhadap pemerintah, rasanya sulit membuat penguasa duduk nyaman disinggasana. Presiden Prabowo Subianto pun kerap kali merasa terganggu dan tak luput dari kritikan keras kaum oposisi maupin kalangan aktivis hingga pengamat. Bahklan ruang-ruang medsos dipenuhi dengan seruan pemakzulan dan nada-nada protes. termasuk dari tokoh dan pengamat sekelas Saiful Mujani.
Pertanyaanya; Dapatkan seruan Saiful Mujani yang mengajak pelengseran Presiden Prabowo dapat memicuh reaksi berantai dari masyarakat?? Hemat saya, seruan Saiful Mujani tak akan berdampak apa-apa. Seruan ini akan lenyap seiring derap kaki sepatu para pembantu presiden. Namun ada hal yang patut diwaspadai, yaitu; Pengkhianatan yang datang dari lingkaran inti didalam pemerintahan Prabowo sendiri.
Ketika mengikuti kronologi rentang sejarah Indonesia, berbagai konflik yang terjadi dari mulai peristiwa penjajahan kolonial, masa revolusi, orla, orba hingga masa reformasi, sungguh bukan suatu kebetulan berbagai peristiwa kerap mengisi cela sejarah melalui berbagai karakter. Demokrasi Indonesia hari ini memang sedang tumbuh, tetapi terancam memasuki masa yang kelam ketika kritik dianggap penghinaan.
Akan tetapi, melihat deret nama yang ada dalam pemerintahan Prabowo, muncul benang merah yang secara tematik memperlihatkan adanya loyalitas ganda dalam kabinet merah putih. Mereka tidak benar-benar loyal terhadap presiden. Melainkan loyal terhadap kepentingan mereka dan gerombolan mereka sendiri. Maka kemudian infiltrasi ini kedepan justru dapat berpotensi menimbuilkan makar dari lingaran dalam pemerintah sendiri. Sebab sebagian dari mereka adalah pemegang kendali instrumen yang dapat digerakan sewaktu-waktu.
Bahkan bisa jadi, kegaduhan-kegaduhan yang muncul di ruang publik merupakan bagian dari orkestrasi senyap untuk menghancurkan prestasi dan reputasi Presiden Prabowo dimata rakyat Indonesia. Maka dari kritik sosial, lalu isu-isu makar, keriuhan-keriuhan yang muncul sepertinya pelan-pelan mulai terang bahwa para operator sesungguhnya akan memberi bobot tekanan lebih untuk mereduksi pencapaian teknis yang diharapkan Prabowo. Kalau dilihat dengan kacamata politik, maka alasan untuk melaporkan Saiful Mujani dengan kasus makar mungkin terlalu prematur dan dramatis. Sesungguhnya, Prabowo harus mewaspadai lingkaran dalam sendiri. Karena pengkhianatan itu acapkali datang dari orang terdekat.
***********
