Oleh Marlin Bato
Jakarta, 22/04/26
Jakarta, 22/04/26
Hampir 30 tahun yang lalu, para aktivis dan mahasiswa serta tokoh-tokoh nasional mengambil langkah besar dengan dengan menumbangkan rejim orde baru. Mereka memperkenalkan era baru yang disebut orde reformasi. Orde dimana kekuasaan yang tidak lagi ditentukan melalui format penguasa, tetapi oleh rakyat sendiri. Dengan peluncuran exploding the new sistem pada tahun 1998, peristiwa ini membuka lembaran baru perjalanan bangsa Indonesia tentang demokrasi, yang kemudian semakin berkembang kearah liberal. Tetapi ini juga menjadi pertanyaan yang terus bergema hingga saat ini: apa yang bisa dilakukan ketika demokrasi melampaui batas, dan justru dikuasai uang rente?
Pada saat yang sama, teknologi digital semakin berkembang, media-media sosial mulai mudah diakses seluas-luasnya memasuki kehidupan yang jauh lebih optimisme, namun sekaligus terjadi disrupsi yang berkelindan. Era ini menjadi lahan uji bagi penguasa menghadapi mahasiswa, aktivis, kritikus maupun kaum oposan yang bergerak liar tidak hanya dijalanan atau mimbar bebas, mereka juga aktif dimedia sosial mengubah narasi menjadi senjata untuk melakukan kritik dan kontrol terhadap pemerintah.
Selama beberapa dekade, dorongan eksploratif demokrasi berkembang melalui keterlibatan rakyat secara langsung membentuk perspektif baru dari apa yang sekarang disebut demokrasi liberal. Bukan sebagai penyimpangan, tetapi sebagai ruang dimana ekspresi terus menerus digelorakan, diperluas, dan dieksplorasi.
Demokrasi ditahun 2026 dibangun diatas garis demarkasi yang tetap berlandaskan pancasila namun mulai kehilangan makna gotong royong. Alih-alih menengok ke belakang secara historis pada momen-momen sebelum kemerdekaan hingga reformasi, model demokrasi hari ini mulai memperlakukan sejarah sebagai sumber daya yang usang, dienyahkan sebagai respons terhadap urgensi kontemporer model demokrasi ala barat. Corak ini tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk konstelasi praktik ekspresi yang mencerminkan bagaimana narasi bergeser. Para kritikus, mahasiswa, akademisi, aktivis, kaum oposan dan tokoh-tokoh nasional berada dalam cirlce yang sama untuk mengontrol pemerintah. Namun hari-hari ini situasi berbalik arah, kekuasan jadi alat kontrol terhadap mereka yang kritis. Beberapa diantaranya mulai dikriminalisasi melalui alat kekuasaan. Terkadang juga terjadi ancaman pembatasan media nama UU ITE.
Dalam dinamika konstelasi seperti ini, gerakan aktivis 98 mulai dihidupkan kembali. Mereka beroperasi dalam berbagai cara untuk memperkuat barisan. Beberapa aktivis kampus membakar ingatan emosional dan melalui narasi sunyi. Sementara yang lain, tetap bekerja dengan materi pribadi dan ingatan historis yang terus dibenamkan untuk mendukung gerakan perubahan. Di tempat lain, propaganda menjadi sarana untuk memvisualisasikan batin atau bertindak sebagai seruan untuk kesadaran, menghadapkan rakyat pada realitas politik, sosial, dan ekonomis yang menuntut perhatian ditengah jurang kesenjangan atas kebijakan-kebijakan pemerintah.
Beberapa narasi propaganda mulai membuka memori dan penceritaan melalui pergeseran perspektif, mempertanyakan apa yang terjadi ketika penguasa tidak lagi memusatkan perhatiaanya kepada rakyat. Imersi ini digunakan secara perlahan mengganggu persepsi, memperluas kapasitas pengaruh untuk merebut empati dengan mengkonfigurasi ulang bagaimana dan dari mana orde reformasi itu dilihat.
Di tempat lain dalam rangkaian ini, para aktivis, kritikus dan mahasiswa berinteraksi dengan arsip peristiwa 98 melalui gambar visual sebagai materi yang hidup, bukan sekadar catatan statis. Arsip 98 mendokumentasikan gerakan mahasiswa dan krisis ekonomi yang menumbangkan rezim Orde Baru, ditandai dengan unjuk rasa besar-besaran sejak awal 1998 hingga jatuhnya Soeharto pada 21 Mei 1998. Dokumentasi mencakup pendudukan gedung DPR/MPR, kerusuhan Mei, tragedi kekerasan seksual, serta pameran memori kolektif dan foto.
Kompas 10 mei 2025 menurunkan foto-foto disertai narasi; Arsip Foto ”Kompas”: Merawat Ingatan Tragedi Mei 1998. Kerusuhan Mei 1998 merupakan salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia. Peristiwa tersebut menyebabkan ribuan orang tewas dan banyak bangunan rusak. Dalam instalasi berita: Kompas ingin menampilkan Jakarta sebagai kota dimana sejarah yang belum terselesaikan terus bergema diruang publik, bahkan ketika bentuk-bentuk perlawanan dan kreativitas baru muncul. Jika dicermati, berita-berita seperti ini memperlakukan ingatan sebagai sesuatu yang terus-menerus ditulis ulang melalui gambar, objek, dan suara. Sementara utopia akan demokrasi yang mengadopsi semua kepentingan terus menggema.
Pada saat yang sama, beberapa kritikus mulai mengeksplorasi mesin gerakan untuk menghadapi ancaman distopia terhadap brutus-brutus dalam lingkaran kekuasaan. Ini adalah sebuah pola imersif menciptakan kesadaran bersama dimana narasi yang dihasilkan akan bergeser secara real-time melalui interaksi dengan pengguna media sosial untuk menghasilkan lanskap pemikiran yang lengkap.
Krisis Timur Tengah akibat perang AS-Israel vs Iran dan kondisi ekonomi global yang berdampak pada Indonesia membentuk benang merah mendesak lainnya. Situasi ini merefleksikan kecemasan pasar investasi sekaligus paceklik bagi para pencari kerja yang hampir saban hari terkena dampak PHK. Proyeksi imersif ini merekonstruksi ruang domestik, menunjukkan kepada kita bagaimana peristiwa kejatuhan penguasa terjadi dari masa ke masa, termasuk pada situasi yang dihadapi saat ini. Sebagaimana perilaku pemerintah saat ini yang mewujudkan kebijakan-kebijakan yang berulang kali keluar dari batasan arsitekturalnya dalam lingkungan virtual untuk membangkitkan sifat siklus eksistensi, menggeser persepsi dari pengamatan ke sensasi. Dan terkadang kebijakan hanya muncul saat pidato, bukan melalui proses pembahasan yang matang dengan wakil-wakil rakyat di parlemen.
Didalam dinding istana, acapkali kekuasaan diubah tanpa ambang batas dalam ruang non-linier, membuat kebijakan dinavigasi secara pseudonym yang kerap kali menghasilkan resonansi luar biasa dari publik tanah air.
Sementara itu, para mahasiswa maupun kritikus mulai menentukan plot twist dan aktivis 98 sebagai detonator pemicuh menggali sebuah gerakan temporalitas untuk menginterupsi kebiasaan penguasa yang mengabaikan suara rakyat kecil. Mereka akan menempati alun-alun publik yang dibentuk oleh sejarah berlapis tentang keberangkatan dan kepulangan kaum pejuang demokrasi. Masing-masing akan berperan dalam konteks arsitektur yang didedikasikan untuk desain masa depan bangsa, mempertajam refleksi kritis daripada ilustrasi. Media imersif dalam segala bentuk dan rupa memainkan peran sentral. Tahun 2026 akan menandai babak baru penguasa harus memposisikan dirinya sebagai tempat dimana bahasa-bahasa yang muncul tidak hanya dipresentasikan, tetapi juga diperiksa dan dibentuk secara kritis, termasuk melalui memori tiga dekade orde reformasi.
Oleh karena itu, demokrasi saat ini merupakan ruang bernapas yang penting layaknya dalam sebuah festival. Sebuah tempat dimana sinema dapat berhenti sejenak, berkembang, dan menguji batas-batasnya, tanpa tekanan untuk segera mencapai penyelesaian akhir. Seperti sebuah konstelasi dalam gerakan, ia tidak menawarkan satu jalur tunggal, tetapi mengundang para pemikir dan kaum cerdik bestari untuk menelusuri gagasan, tidak hanya menonton, tetapi juga menghayati, mendengarkan, dan merenungkan. Tiga puluh tahun setelah ledakan orde reformasi, dorongan inti tetap tidak berubah: untuk tetap terbuka terhadap apa yang dapat menjadi kisah, tepat pada saat bangsa ini meninggalkan rejim totaliter demi menuju demokrasi yang semakin mapan.
*********
